Piknik ke Frankfurt tanpa Rencana

Beberapa pembaca dan sahabat menunggu lanjutan kisah tentang lelaki yang ketinggalan pesawat itu. Sejak meninggalkan Wageningen, Minggu (09/11/2008) dan terdampar di Frankfurt hingga Rabu (13/11/2008), tiba di Palembang, Kamis (14/11/2008) lelaki itu masih melanglang buana, antara lain ke Tanah Garo, pelosok hutan di Jambi (18-21/11/2008) dan ke Pulau Bali (23-30/11/2008). Setelah menyelesaikan pengembaraannya, kini ada kesempatan untuk melanjutkan kisahnya berikut ini.

Bandara Frankfurt, Senin (10/11/2008). Setelah mencuci muka dan menikmati sepotong roti seharga 2 Euro, lelaki itu kembali berjalan mengelingi bandara mencari info dimana loket Kuwait Airways. Namun loket itu tidak ditemukannya karena maskapai itu hanya terbang setiap hari Minggu dan Rabu, sehingga loket pun dibuka hanya pada dua hari itu.

Suasana stasiun kereta api Frankfurt

Read the rest

“Presiden” Tidur di Bawah Tangga Bandara

Bandara Frankfurt terminal 1B, Minggu (9/11/2008) sore. Kesibukan masih terasa di Bandara Frankfurt, namun kepanikan lelaki itu berangsur mereda. Ia sudah bisa menerima kondisi bahwa pesawat itu sudah pergi dan tak mungkin dikejar lagi. Setelah merenung dan berdiam cukup lama, lelaki itu berusaha mencari informasi dimana orang-orang penunggu counter atau loket Kuwait Airways?

Read the rest

Lelaki Ketinggalan Pesawat

Tahun 1989, Teguh Karya melahirkan film berjudul ‘Pacar Ketinggalan Kereta’ yang berhasil menggondol Piala Citra, yang dibintangi Nurul Arifin, Onky Alexander, dan Tuti Indra Malaon. Giliran berikutnya, Minggu (9/11/2008) lalu menyusul sebuah kisah nyata berjudul ‘Lelaki Ketinggalan Pesawat’. Kisah akan disampaikan secara bersambung.

Sejak Mei 2008, lelaki itu telah merencanakan dan memesan tiket pulang ke Indonesia naik pesawat Kuwait Airways dari Bandara Frankfurt, Jerman untuk melakukan penelitian tesisnya di Indonesia. Namun, memang dua hari sebelum pulang, lelaki itu menemui masalah dan mengalami sesuatu yang membuat rencana dan niat hatinya sedikit terganggu.

Read the rest

Sekilas Cerita tentang PPI

Kawan saya “sea gull” (Saurlin) beberapa waktu lalu menuliskan kegelisahannya tentang sejarah PPI yang menurutnya sempat terputus. Berikut email Bung Saurlin yang beredar di beberapa milis.
—– Original Message —–
From: sea gull
To: heri latief
Sent: Friday, April 18, 2008 2:15 PM
Subject: ppi oh ppi ….kuputuskan menulis email ini, setelah agak gelisah, ada sesuatu yg salah dengan generasi pendiri dan penerus ppi … tulisan ini sendiri mencari benang yang putus itu…kapan dimana dan oleh siapa …dulu di indonesia, jika mendengar ppi, ingatan kembali ke sejarah kemasyuran-heroik para pejuang awal indonesia di luar negeri. peran politik kaum terpelajar untuk mengkampanyekan pembebasan indonesia dari penindasan. sebuah mega proyek mental tentang sebuah bangsa besar bernama indonesia. jejak itu kok sulit ditelusuri ya? yg ditemukan hanya sayup2 cerita yg tidak lengkap dari orang tua yang masih hidup, misalnya di Belanda. konon, kaum superior, ppi awal itu, dihabisi oleh ‘hantu’ tahun 1965, bagi saya masih hantu, karena kurang jelas. tinggallah sekarang saya, salah seorang ppi ‘aneh’ yg tidak punya pengetahuan tentang sejarah diri sendiri, sehingga tidak tahu mau ngapain lagi dengan organisasi saya ini. aku minta penjelasan dari mereka yg dulu aktif di ppi awal, sehingga kaum muda yg memimpin ppi saat ini tidak buta sejarah, dan mengerti peran apa yang harus dilakukan, supaya tidak hanya masuk kampus-terus pulang ke hostel, tidur.

salam,
saurlin, ppi kota den haag.
ps: mohon disebarluaskan kepada siapa saja mantan pengurus ppi …..

Email Bung Saurlin ini mendapat tanggapan dari Bung Tahir Pakuwibowo yang berdomisili di Swedia. Berikut tanggapan Bung Tahir:

Read the rest