Kesaktian Pancasila atau Kesakitan Pancasila?

Pengantar: Masboi menemukan satu catatan menarik yang ditulis oleh Bung A. Umar Said. Bung Umar dilahirkan pada tanggal 26 Oktober 1928, di desa Pakis, dekat Tumpang, kota kecil di dekat Malang (Jawa Timur). Sekarang, dalam kehidupan sederhana di Prancis, Bung Umar tetap berusaha untuk bisa berbuat sesuatu untuk Indonesia dengan menulis.  Selamat membaca!

Judul tulisan ini mungkin terasa sebagai cemooh yang tak pantas, atau kelakar yang tidak lucu, atau ungkapan sembrono yang hanya membikin marah atau jengkel sebagian orang, terutama para pendukung Suharto beserta rejimnya Orde Baru. Apa boleh buat, kalau begitu. Sebab, tulisan ini memang sengaja untuk mencemoohkan “Hari Kesaktian Pancasila”. Bahkan lebih dari itu! Tulisan ini dimaksudkan untuk menghujat – dan sekeras-kerasnya pula ! — apa yang dinamakan oleh para pendukung rejim militer Orde Baru sebagai “hari yang sakti”, yaitu tanggal 1 Oktober. Karena, apa yang dilakukan oleh Suharto dkk dan para pendukung Orde Baru umumnya selama 32 tahun lebih, adalah pelecehan Pancasila, pemalsuan Pancasila, perkosaan Pancasila, penghinaan Pancasila, penyalahgunaan Pancasila, penyelewengan Pancasila atau –- bahkan ! –pengrusakan Pancasila. Jadi, seperti yang sudah disaksikan sendiri oleh banyak orang, selama masa Orde Baru (sampai sekarang !) Hari Kesaktian Pancasila sama sekali bukanlah sesuatu yang “sakti” melainkan sesuatu yang “sakit”.

Read the rest

PPI Belanda Kecam Anggota DPR RI ke Eropa

PPI Belanda Kecam Anggota DPR RI ke Eropa

PPI, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda memprotes keras rencana kunjungan anggota DPR ke Eropa dalam rangka studi banding ke Bank Sentral Jerman. Menurut Yohanes Widodo, Sekretaris Jenderal PPI Belanda di Den Haag, kunjungan ini tidak lebih dari plesiran. DPR mencerminkan wakil rakyat yang kehilangan rasa sensitivitasnya, ujarnya kepada Radio Nederland Wereldomroep.

Yohanes Widodo [YW]: PPI Belanda sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, terus terangstudi banding DPR.jpg kami merasa prihatin, merasa muak bahkan marah melihat perilaku anggota DPR, yang katanya terhormat, ternyata tidak memiliki hati nurani dan tidak punya rasa malu menurut kami.

DPR mencerminkan wakil rakyat yang kehilangan sensitivitasnya. Jadi mereka tidak memiliki sense of crisis di tengah suasana tanah air yang sedang mengalami permasalahan berat, terkait dengan kemiskinan dengan hutang luar negeri yang mencapai 134 milyar dolar Amerika. Kami protes karena DPR tidak malu jalan-jalan dengan hutang. Jadi mereka menghabiskan uang yang sebenarnya itu adalah hutang negara.

Read the rest

 
icon for podpress  Standard Podcast: Play Now | Play in Popup | Download

PPI Belanda Serukan Aksi Boikot dan Cegat DPR di Bandara

Selasa, 07/10/2008 07:39 WIB
PPI Belanda Serukan Aksi Boikot dan Cegat DPR di Bandara
Eddi Santosa - detikNews

Den Haag - PPI Belanda menyerukan boikot plesiran anggota DPR RI ke luar negeri. Bila masih tebal muka, diserukan agar PPI negara tujuan beraksi dan mahasiswa di Jakarta mencegat mereka di Bandara Soekarno-Hatta.

Demikian pernyataan sikap Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda yang dikirim Ketua Presidium Yohanes Widodo kepada detikcom Selasa (7/10/2008) pagi.

Dalam pernyataan sikap berisi lima butir dan diteken di Den Haag (4/10/2008) itu PPI Belanda menyatakan memboikot dan menolak kunjungan anggota DPR RI yang melakukan aji mumpung plesiran ke luar negeri dengan kamuflase studi banding.

Penolakan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa DPR tidak memiliki sense of crisis di tengah kemiskinan dan hutang Indonesia yang masih banyak, sehingga seharusnya keuangan negara digunakan secara hemat, tepat guna dan berdaya guna.

Kedua, jika sekedar studi banding dan pengumpulan data, maka tugas itu bisa dilakukan dan diwakilkan kepada para mahasiswa Indonesia yang berada di negara yang akan dikunjungi, berkoordinasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Selain itu jika tujuannya untuk belajar, maka bisa dilakukan dengan cara mengundang pejabat Bank Sentral Jerman ke Indonesia.

Ketiga, PPI Belanda menyerukan para mahasiswa di Jakarta untuk menahan keberangkatan rombongan anggota DPR di Bandara.

Keempat, menyerukan para mahasiswa di Jerman untuk memboikot dan menolak kedatangan rombongan anggota DPR tersebut.

Kelima, kegiatan plesiran anggota DPR yang dibungkus sebagai studi banding, menunjukkan bahwa anggota DPR sangat bebal dan kebal terhadap kritik dan lagi-lagi menunjukkan perilaku memalukan.

Disebutkan bahwa pernyataan sikap tersebut dikeluarkan PPI Belanda setelah mencermati dan memperhatikan pemberitaan detikcom edisi Kamis (25/09/2008) dan Jumat (26/09/2008) tentang rencana plesiran anggota DPR ke Eropa dengan rute Jakarta, Frankfurt, Berlin, Milan, Jakarta.(es/es

Read the rest

Ritual Bersepeda di Belanda

Sudah lama Masboi pengen menulis pernak-pernik sepeda di Belanda. Ketika mencoba meng-google dan browsing, malah ketemu tulisan Ir. Danny Lim, moderator milis Kincir Angin dan juga citizen journalist website In en Indonesie. “Selain Negeri Kincir Angin, Belanda kini mendapat julukan tambahan, yaitu Negeri Sepeda. Julukan baru ini muncul setelah Belanda tercatat sebagai negara dengan rasio populasi sepeda dan penduduknya tertinggi di Eropa. Sepeda sudah tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Belanda, bahkan sejak mereka kanak-kanak.”

Read the rest